Senin, 15 Agustus 2011

7 penomena alam yang memukau

7 penomena alam yang memanjakan mata
Spoiler for 1.Marble Caves, Chile Chico, Chile:
Marble Caves, Chile Chico, Chile

2. Crystalline Turquoise Lake, Jiuzhaigou National Park, China 
Spoiler for 2. Crystalline Turquoise Lake, Jiuzhaigou National Park, China:
Crystalline Turquoise Lake, Jiuzhaigou National Park, China

3. Skaftafeli - Iceland 
Spoiler for 3. Skaftafeli - Iceland:
Skaftafeli - Iceland

4. ICe Canyon - Greenland 
Spoiler for 4. ICe Canyon - Greenland:

ICe Canyon - Greenland] ICe Canyon - Greenland]ICe Canyon - Greenland

5. Lake Agnes Tea house hike, Banff National Park, Canada. 
Spoiler for 5. Lake Agnes Tea house hike, Banff National Park, Canada.:
Lake Agnes Tea house hike, Banff National Park, Canada.

6. East Iceland. 
Spoiler for 6. East Iceland.:
East Iceland.

7. The Wave on the Colorado Plateau, Arizona. 
Spoiler for 7. The Wave on the Colorado Plateau, Arizona. :

Minggu, 14 Agustus 2011

Rokok dan alkohol dapat menyebabkan gangguan mental

Jangan anggap enteng gaya hidup masyarakat yang kental dengan alcohol serta rokok (sekalipun pemerintah telah menggalang berbagai gerakan anti rokok ditempat tempat umum). Bebasnya penjualan alkohol di kota-kota besar misalnya seperti di Jakarta, Bali serta beberapa kota besar lainnya di Indonesia yang memiliki kecenderungan life-style yang masih saja dekat dengan alkohol serta rokok. Hukuman terhadap perokok ditempat umumpun belum terdengar gencar dan sulit pelaksanaanya.
Rokok dan alkohol harus diakui memang masih ada disekitar kita serta berbagai bahaya akibat penggunaanya. Masyarakat mengenal bahaya alkohol dan rokok cenderung pada penyakit jantung, kemandulan, ganguan pernafasan dan lain-lain. Namun masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa penggunaan alkohol serta nikotin pada rokok juga mengakibatkan gangguan pada otak sehingga mengakibatkan gangguan kejiwaan atau mental. Salah satu efek penggunaan rokok dan alkohol dalam jangka panjang adalah sebagai salah satu penyebab penyakit kejiwaan yaitu skizofrenia.
Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).
Skizofrenia dengan penyalahgunaan alkohol kira kira 30% sampai 50%, kanabis 15% sampal 25% dan heroin, kokain, amfetamin 5%-10%. Sebagian besar penelitian menghubungkan hal ini sebagai suatu indikator prognosis yang buruk karena penyalahgunaan zat menurunkan efektivitas dan kepatuhan pengobatan.  Hal yang biasa kita temukan pada penderita skizofrenia adalah adiksi nikotin, dikatakan 3 kali populasi umum (75%-90% vs 25%-30%). Penderita skizofrenia yang merokok membutuhkan anti psikotik dosis tinggi karena rokok meningkatkan kecepatan metabolisme obat tetapi juga menurunkan parkinsonisme.
Ciri-ciri penderita skizofrenia :
Indikator premorbid (pra-sakit) pre-skizofrenia antara lain ketidakmampuan seseorang mengekspresikan emosi: wajah dingin, jarang tersenyum, acuh tak acuh. Penyimpangan komunikasi : pasien sulit melakukan pembicaraan terarah, kadang menyimpang (tanjential) atau berputar-putar (sirkumstantial). Gangguan atensi : penderita tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, atau memindahkan atensi. Gangguan perilaku : menjadi pemalu, tertutup, menarik diri secara sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, menantang tanpa alasan jelas, mengganggu dan tak disiplin.
Gejala-gejala skizofrenia pada umumnya bisa dibagi menjadi dua kelas:
  1. Gejala-gejala Positif
    Termasuk halusinasi, delusi, gangguan pemikiran (kognitif). Gejala-gejala ini disebut positif karena merupakan manifestasi jelas yang dapat diamati oleh orang lain.
  2. Gejala-gejala Negatif
    Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).
Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal, fase aktif dan fase residual. Pada fase prodromal biasanya timbul gejala gejala  non spesifik yang lamanya bisa minggu, bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut meliputi : fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan fungsi perawatan diri.  Perubahan perubahan ini akan mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman, mereka akan mengatakan “orang ini tidak seperti yang dulu”. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya.
Pada fase aktif gejala positif / psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik, inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala gejala tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual dimana gejala gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif / psikotiknya sudah berkurang. Disamping gejala gejala yang terjadi pada ketiga fase diatas, pendenta skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sosial).
Perlu diperhatikan kepribadian pra-sakit yang merupakan faktor predisposisi skizofrenia, yaitu gangguan kepribadian paranoid atau kecurigaan berlebihan, menganggap semua orang sebagai musuh. Gangguan kepribadian skizoid yaitu emosi dingin, kurang mampu bersikap hangat dan ramah pada orang lain serta selalu menyendiri. Pada gangguan skizotipal orang memiliki perilaku atau tampilan diri aneh dan ganjil, afek sempit, percaya hal-hal aneh, pikiran magis yang berpengaruh pada perilakunya, persepsi pancaindra yang tidak biasa, pikiran obsesif tak terkendali, pikiran yang samar-samar, penuh kiasan, sangat rinci dan ruwet atau stereotipik yang termanifestasi dalam pembicaraan yang aneh dan inkoheren.

Jumat, 12 Agustus 2011

Tingginya Angka Kejadian Gangguan Jiwa Halusinasi Di Jawa Barat dan Peran Perawat Dalam Mengatasinya


Menurut undang-undang No 23 Tahun 1992 pasal 1 kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial . Menurut UU kesehatan Jiwa No.3 tahun 1996 Kesehatan Jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan Fisik, intelektual, emosional secara optimal dari seseorang dan perkembangan ini berjalan selaras dengan orang lain Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa manusia selalu dilihat sebagai kesatuan yang utuh (holistik) dari unsur   badan  (organobiologi),  jiwa (psiko edukatif), sosial  (sosio kultural), yang tidak dititik beratkan pada  penyakit tetapi pada kualitas hidup yang dimilikinya  yang terdiri dari kesejahteraan dan produktifitas ekonomi serta kesehatan jiwanya.
 Kesehatan jiwa mempunyai sifat yang harmonis (serasi), dan memperhatikan semua segi kehidupan manusia dalam hubungannya dengan orang lain. Kesehatan jiwa adalah bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari kesehatan dan unsur utama dalam menunjang terwujudnya kualitas  hidup manusia secara utuh. (Depkes RI,2002) . Masalah kesehatan jiwa mempunyai lingkup yang sangat luas dan kompleks serta saling berhubungan satu dengan lainnya. Apabila individu tidak mampu mempertahankan keseimbangan atau mempertahankan kondisi mental yang sejahtera, maka individu tersebut akan mengalami gangguan, dan apabila gangguan tersebut secara psikologis maka akan mengakibatkan individu  mengalami gangguan jiwa. Dari berbagai penyelidikan dapat dikatakan bahwa gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal,baik yang berhubungan dengan fisik,maupun yang mental (Yosef,iyus,2009:77)
Menurut Dadang hawari dalam bukunya pendekatan holistik pada gangguan jiwa menyebutkan bahwa salah satu bentuk gangguan jiwa yang terdapat diseluruh dunia adalah gangguan jiwa Skizofrenia dan salah satu jenis Skizofrenia adalah Skizofrenia Paranoid Berdasarkan data laporan insiden kasus gangguan jiwa yang dirawat di rumah sakit jiwa Provinsi Jawa Barat Priode bulan Januari sampai April 2011 dapat dilihat pada table Berikut :
       Tabel 1.1 Distribusi Frekuensi Penyakit Gangguan Jiwa Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Periode Bulan Januari-April 2011

Jenis Gangguan Jiwa
Jumlah (orang)
Persentase (%)
1
Schizofrenia Hebefrenik
277
30 %
2
Schizofrenia Paranoid
261
28 %
3
Schizofrenia Residual
115
13 %
4
Episode Depresi; Gangguan Suasana Perasaan YTT
95
10 %
5
Gangguan Psikosa Akut dan Sementara
77
8 %
6
Schizofrenia YTT
30
3 %
7
Episode Manik dan Gangguan Afektif Bipolar
22
2 %
8
Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Zat Psikoaktif
18
2 %
9
Gangguan Anxietas Fobik; Gangguan Anxietas Lainnya
14
2 %
10
Gangguan Psikotik Non Organik Lainnya
13
2 %


Total
922
100%

Sumber : Laporan Diagnosa Penyakit Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Periode Januari-April 2011

Data diatas menunjukan persentase penyakit gangguan jiwa dari jumlah 922 orang yang dirawat dirumah RSJ provinsi Jawa Barat. Kasus Skizofrenia Paranoid menduduki urutan kedua  sebanyak 261 orang (28%) dari 10 besar gangguan jiwa yang ada dirumah sakit jiwa Provinsi Jawa Barat. Maka dapat diketahui bahwa Skizofrenia Paranoid  memiliki prevalensi yang cukup besar.Salah satu faktor pendukung timbulnya  Skizofrenia Paranoid adalah mengalami gangguan sensori persepsi.. Gangguan sensori persepsi adalah ketidakmampuan individu dalam mengidentifikasi stimulus sesuai dengan informasi yang diterima melalui panca indra. Gangguan sensori persepsi ditandai oleh adanya halusinasi, yaitu individu menginterpretasikan sesuatu yang tidak ada stimulus dari lingkungan. Tabel dibawah ini menjelaskan angka kejadian Gangguan sensori persepsi halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat :

Tabel 1.2 Daftar Distribusi Diagnosa Keperawatan Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat Periode Bulan Januari-April 2011
No
Diagnosa Keperawatan
Jumlah (orang)
Persentase (%)
1
Gangguan sensori persepsi halusinasi
8922
61 %
2
Isolasi sosial
1823
12 %
3
Perilaku kekerasan
1799
12 %
4
Waham
902
6 %
5
Harga diri rendah
647
5 %
6
Defisit perawatan diri
446
3 %
7
Resiko bunuh diri
194
1 %
Total
14810
100%
Sumber : Catatan Rekam Medik RSJ  Prov. Jawa Barat Periode Januari-April 2011
Berdasarkan data tabel 1.2 diatas diagnosa keperawatan jiwa Gangguan Sensori Persepsi  berada pada tingkat Pertama sebanyak 8922  orang (61%). gangguan sensori persepsi halusinasi Berdampak langsung pada  permasalahan dalam pemenuhan kebutuhan dasar klien  itu sendiri seperti : gangguan  kebutuhan nutrisi, kebutuhan istirahat tidur, kebutuhan personal hygine, kebutuhan rasa aman, komunikasi, sosialisasi, spiritual dan aktualisasi diri.oleh karena itu peran perawat dalam membantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya. Perawat  harus mampu melakukan  pendekatan pada klien khususnya klien  sebagai manusia yang utuh yang meliputi aspek bio-psiko-sosiak-spritual melalui proses keperawatan yang komprenshif, dan perawat harus memiliki kemampuan dan tekhnik komunikasi terapeutik dalam membina hubungan saling percaya dengan pasien yang merupakan dasar utama dalam melakukan asuhan keperawatan.